We only provide : fun, happy crowd, friendship, success story. Love you to the catokan and the Nasgil Darna

*sebagai pengganti love you to the moon and the back

Menampilkan Haris Herdiansyah, M.Si dalam foto “Aneka Ria Psikologi 2010”

Decide. 
Setelah jadi mahasiswa gelap di kuliah kesmen, mau skripsi tentang polisi. - 2010
Commit
Skripsi berjudul “Gambaran Subjective Well-Being Pada Anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor” berhasil disusun dan dipertahankan. - 2014
Suceed.
(masih dalam pengerjaan)

Decide. 

Setelah jadi mahasiswa gelap di kuliah kesmen, mau skripsi tentang polisi. - 2010

Commit

Skripsi berjudul “Gambaran Subjective Well-Being Pada Anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor” berhasil disusun dan dipertahankan. - 2014

Suceed.

(masih dalam pengerjaan)

Jurnal Tyo : Asisten Dosen

Alkisah saya yang pecicilan ini berangkat dari keluarga berantakan dengan mimpi setinggi langit. Menjadi manusia semulia-mulianya sebagai makhluk rekaan Tuhan. Sementara, sebagai anak muda di keluarga saya lebih menyembah lagu alternatif rock berjudul “Kings and Queens”-sebuah metafor penciptaan manusia (cerdas, menceritakannya ke anak-anak saya besok tidak sulit..musiknya lebih masuk akal :p). 

We were the Kings and Queens of promises,

We were the victims of ourselves,

Maybe we were the children of a lesser God, 

Between heaven and hell,

Dalam hemat saya dengan otak udah bukan kepalang selalu berada di jalur berlawanan dengan moral neurotik orang tua..lagu ini lebih memanusiakan saya :p. Sebagai individu, lelah menjalani prosesi menjadi manusia yang..ih waw..agamanya bukan mentok di KTP. Rasanya kognitif hanya diusangkan dengan norma agama. Menjadi manusia yang mulia adalah harapan setiap manusia, namun saya kerap menemukan satu hal : peran. Peran ini kerap diabaikan, sementara peran ini dalam pengamatan sebagai seekor tenaga psikologi punya tujuan baik-meskipun kerap kelihatan menyebalkan. 

Menyangkut soal mulia, pribadi mulia, pekerjaan mulia..lalalala.. Orang tua menggariskan sebuah pekerjaan dengan tingkat pride menyaingi Gunung Everest semata.. meningkatkan posisi tawar mereka sebagai orang tua bercerai tapi masih bisa mendidik kedua anaknya sesuai UUD 1945. Teman-teman, itulah profil orang tua-tidak perlu dikomplain, jalani kehendak mereka..dan banggalah kita yang kerap dianggap “ah anak muda bisa apa?” bisa sedikit menyindir “bisa memenuhi kehendak orang tua yang hanya bisa berproyeksi tanpa beraksi secara progresif, mwachk!”, ka-ching! 

Tibalah saya sebagai seekor sarjana ilmu perilaku dan proses mental. 

Gempar nih satu keluarga, bapak saya eforia, ibu saya jangan ditanya.

Sisanya.. nyinyiran, 

eh kok bisa sih anak badung gak naik kelas jadi S.Psi?

eh kok bisa sih anak cuma kerjaannya ketawa-ketiwi didepan layar smartphone..temen-temennya sesosok misterius dengan lencana Tri Brata?

eh kok bisa sih lulus kuilah empat tahun teng-go?

eh..eh..eh..

Mendadak saya lebih suka desahan aktor dan aktris film porno luar negeri. Mereka sangat paham bahwa optimisme lebih baik daripada.. keraguan apalagi hilangnya sesuatu dari tubuh mereka, ion misalnya?

OH YES

OH YES

MORE!

MORE!

MORE!

YEAAHH!

Lihat kan semangatnya? Daripada nyinyiran penuh kedengkian dari WNI yang kejebak packaging, selalu. 

Usai eforia tersebut, saya kembali membuat jawdropping moment, mendapat pekerjaan yang sungguh mulia (menurut bapak saya) : asisten dosen. Bapak begitu bergairah, kalau dia punya banyak pulsa mungkin setiap saya selesai masuk kelas, beliau pasti menelpon. Baiknya secara pribadi tidak begitu mengungkap dorongan : kenapa asdos? 

Kalau ditanya gaji, gak besar kok tapi ada.

Tujuannya melatih diri sopan dengan uang. Selama ini otak ideal saya bilang : lho kan udah pengalaman, kok gaji kalau jadi staf segini doang.. Daripada saya terus tidak bersyukur, lebih baik ambil pekerjaan asdos yang bisa lebih disyukuri dan dimaknai secara materi. 

Belajar, 

Kacang gak pernah lupa kulit, psikolog adalah jalan hidup. Lho, psikolog kan gak cuma praktik, ngajar juga lho. Ya, mari dipupuk kalau mau dipanggil “Pak Dosen”-kadang teman sekampus suka guyonin saya : wih asdos, tapi kok lo brengsek ya? Brengsek aja lo jadi asdos, kalau nggak brengsek? 

Kalau nggak brengsek gua mau jadi koruptor dan filantropis :p

nah lho..

Banyak yang bertanya kenapa gak kerja aja. Kerja kantoran..

Motivasi belum sampai disitu, semakin kesini saya punya rencana yang malas dibagikan sampai rencana itu tercapai dengan baik. Tentunya, ketika keluarga dan banyak orang sibuk menganyam “kenapa Tyo jadi asdos”-saya hanya tertawa karena berhasil mempraktikan ilmu inteijen :p

"And now I am coming down the way, they forgiven my mistake.
I am coming home, I am coming home,
tell the world I am coming home..”

Skylar Grey - Coming Home (Part II).mp3

Jurnal Tyo : Cepat, Senyap, Tepat

Adalah jargon gua sejak 2010 dalam melakukan sesuatu setelah lulus kuliah. Faktanya jargon itu sudah jadi semboyan dalam melakukan berbagai hal hari ini. Seringkali bikin orang-orang di keluarga kesal karena itu cepat-senyap-tepat. Bagi kaum dramatik yang membutuhkan ketepatan tapi ritmenya pelan, tentu orang seperti gua adalah sebuah masalah. Masalahnya? Kecepetan..

Namun hal itu gak bisa gua berlakukan buat pacaran berujung kopulasi. Pengalaman mengaplikasikan semboyan itu buat percintaan adalah kekeliruan. Karena namanya pacaran ada dimensi adaptasi dan gak cocok sama dimensi cepat di semboyan gua-tapi kalau senyap sama tepat..yaa jangan ditanya, efektif. 

Yoi..segitu aja dulu :p