Jurnal Tyo : Cepat, Senyap, Tepat

Adalah jargon gua sejak 2010 dalam melakukan sesuatu setelah lulus kuliah. Faktanya jargon itu sudah jadi semboyan dalam melakukan berbagai hal hari ini. Seringkali bikin orang-orang di keluarga kesal karena itu cepat-senyap-tepat. Bagi kaum dramatik yang membutuhkan ketepatan tapi ritmenya pelan, tentu orang seperti gua adalah sebuah masalah. Masalahnya? Kecepetan..

Namun hal itu gak bisa gua berlakukan buat pacaran berujung kopulasi. Pengalaman mengaplikasikan semboyan itu buat percintaan adalah kekeliruan. Karena namanya pacaran ada dimensi adaptasi dan gak cocok sama dimensi cepat di semboyan gua-tapi kalau senyap sama tepat..yaa jangan ditanya, efektif. 

Yoi..segitu aja dulu :p

Jurnal Tyo : Back in Space

Lost in Space kan lagunya Lighthouse Family ya, yang romantis banget itu. Demi apapun kalau gua married, itu gombalan buat calon istri. Oh ya, calon istri? Pacar aja masih on the go. Hal yang sangat ingin dilakukan pasca hardcover adalah berkontemplasi. Bagaimanapun, gua merasa sudah puas dan bersyukur selama kurang lebih enam tahun ke belakang setelah di SMA mulai memuaskan diri sendiri. Kita lihat selama enam tahun ini apa saja hal perlu ditingkatkan? Begitchu, makanya agak-agak kesal kalau harus ngerjain sesuatu tanpa tahu kapan ini selesai.

Menetralisir dan memantapkan diri usai lulus memang bikin kebat-kebit. Kalau udah begini, mau udah pengalaman kerja dibawah tekanan di kepolisian sektor selama skripsi gak ngasih kontribusi apapun. Jika berbicara dengan pendekatan lifespan development, usia 20 sampai kemarin 23 gua habiskan selain di kampus ya di markas. Sebuah masa vital dari masa-masa lainnya karena masa ini nilai sudah terbentuk, lalu mulai jadi pegangan karena nilai-nilai tersebut adaptif untuk keseharian. Alhasil, senetral-netralnya gua sebagai WNI, tetep aje..nilai-nilai tentang kepolisian akrab di otak. 

Ceritanya, waktu gua gak banyak. Karena 2015 udah ada beberapa rencana untuk karir dan sekolah. Mau gak mau sekarang gua memantapkan. Memantapkan dalam konteks mana yang bisa dikerjain dan diterusin sampai dipajang di media sosial sebagai pencapaian, mana pula yang dikerjainnya nanti-karena kalau dikerjain sekarang sama aja lu garamin air laut. Memang untuk usia sekarang sudah ada kebijaksanaan bagi diri sendiri. Gak semua bisa dikerjakan, gak semua bisa dicapai, tapi mana yang sudah diusahakan sejak lama lebih baik dicapai sampai selesai. Menurut gua gak perlu milih untuk : ini dikerjain, ini nggak. Karena dari pengalaman enam tahun ke belakang, ketika yang dikerjain udah selesai, maka yang tertunda bisa dikerjain sampai selesai.

Gua masih mau ngelanjutin S2 profesi psikologi klinis dewasa. Selain emang gemar dengan ilmunya, setiap bantuin dosen di dunia psikologi. Selalu dapat doa dari psikolog-psikolog senior : ayo mas, saya doakan mas jadi psikolog bagaimanapun jalan yang ditempuh. 

Gua pribadi juga mau jadi psikolog kepolisian, ahlinya bro! Indonesia punya ahli psikologi forensik, seperti Prof. Yusti, Pak Reza. Kalau mau jadi ahli psikologi forensik? Mainstream atuh, inget almamater SMA..hehe..inget semua alumni yang pernah gua datengin. Masa mereka aja yang belum secanggih sekarang bisa membawa mereka ke hari ini sebagai tenaga ahli di berbagai bidang. Pertanyaan lalu kembali ke gua : lha elu diem aja dan jadi biasa-biasa aja? Jadi masih mau sibuk berasionalisasi? 

Sambil mengucap jah bless, gua memulai lagi penjelajahan tahap dua dalam kehidupan ini. 

rizkianasiska:

Orang kesekian yang bilang i already changed :’)

We grow up, not just look older, but stop doing something silly because we have people around us..staring us without miss for a while once we make a mistake.

Sebelum properti papan tulis dihujami eforia anak-anak masa kini yang baru mengenali kapur tulis :p

Foto terakhir bersama Ibu Negara, sebelum Ibu Iriana dilantik sebagai Ibu Negara selanjutnya #instafamily

27 Agustus 2014

Sambil skripsi di kepolisian kemarin, hitung-hitung gua belajar gimana hierarki dan senioritas berlangsung untuk dunia kerja. Kalau senioritas, bukan makanan baru-SMA yang setengah komando kehidupannya udah mengajari banyak soal senioritas dalam kontinum positif atau negatif. Terkadang, meskipun hierarki udah jelas, tapi ada hierarki laten yang perlu dipahami. Semisal, sekarang kalau balik ke kantor..meskipun udah gak sering. Gua tau urutan sowannya, pertama Komandan di Unit tempat skripsi dulu. Pokoknya jangan nurutin hierarki Komando pada umumnya. 

Begitupun dalam berkolega, entah atasan terlalu sayang sama gua atau khawatir gua kecomot sama atasan yang lain. Hierarki laten juga bermain, gua gak bisa sembarangan gerak kecuali atas perintah. Makanya ada kalimat khas “Siap, perintah!” itu bukan kalimat klise sembarangan. Posisi bawahan nerima perintah, mau inisiatifnya kayak apa. Inisiatif itu miliki atasan (mengutip dari wawancara informan skripsi). 

Hasilnya ketika mematuhi hierarki tersebut, berpengaruh ke fisik. Lho kok bisa? Ya, karena gak mungkin elu duduk tegap didepan atasan untuk alasan apapun. Menunduklah, dan ingat hukum nomor dua : bawahan selalu salah. Nah karena kebiasaan kayak gitu, kalau di rumah gua suka diprotes : kamu jangan bungkuk ah, jelek posturmu. Beh, belom liat gua kalau tegap muka gua datar, cocok buat berantem sama Paspampres. Secara ga sadar hal itu udah masuk ke alam bawah sadar. 

Eniwei..satu lagi soal atasan di pekerjaan seperti ini. Kalau punya atasan yang agak eklektik, pasrahin aja. 

Setiap malam gua selalu minta satu hal : gua mau menikmati hidup.
Sadar kemarin gua lepas dari semua kenikmatan yang hakiki

– refleksi selesai lebaran